Mencoba lebih baik dari pada tidak sama sekali.....

Jumat, 03 Juni 2022

Di Bawah Pohon Jambu Aku Duduk dan Menangis

 *) Untuk kekasihku Resah dan Kirana, lapangkanlah dada
bagi kekalahan dalam suatu tanding yang tidak adil.
Semoga cinta kita kelak kekal di keabadian.

 

/Prolog


Sore ini hari hujan. Aku berdiri di muka jendela yang menganga. Dulu pernah kupandangi—juga seperti saat ini, seorang perempuan muda sedang duduk tidak jauh di bawah pohon jambu itu, tanpa tergesa masuk rumah membawa resah dan cemas yang basah di tubuhnya. Ya, Kirana namanya. Biarlah kuceritakan sedikit tentang dia kepadamu, Resah. 

 

Kau tahu Resah? Kirana adalah sembahyangku. Tidak henti-hentinya seorang di dalam diriku—yang tidak cukup aku kenali—membisikan kalimat kagum kepadanya. Ya! Dan aku sepakat. Aku akan meramunya sekali lagi—di kepalaku. Rambutnya bergelombang panjang serta kuning keemas-emasan berwarna di ujung tiap helainya. Aku menyukai tingkah saat dia menyisir dan menyelip rambutnya di daun telinga, malu, santun dan anggun. Matanya yang coklat sering kali aku tatap tanpa dia tahu dan kejap saja aku tenggelam ke dalamnya, kutemui keberanian dan tulus hati yang tidak mampu aku selami. Wajah ovalnya adalah pintu yang entah bagaimana berkali aku buka dan selalu tidak selesai aku cermati. Dan kulitnya serupa kulit buah langsat begitu halus dan lembut, jika aku disentuhnya aku membayangkan belaian ibuku, aku jadi seorang lelaki kecil yang berhutang tidak terhitung kasih sayang.

 

O…! Resah, kau akan mengakui bahwa parasnya sungguh anggun—bahkan dalam murungnya. Kau memang mengakuinya bukan? Dan murungnya adalah diamku yang paling sunyi yang menjelma labirin, tempat aku bermain dan tersesat. Seumpama menghitung rintik hujan yang jatuh-jatuh, kau akan kalah. Dia selalu rumit. Sesederhana itu!

 

/1

Kau tahu berapa jumlah kemurungan?

 

Pernah suatu ketika dia melempar sebaris pertanyaan itu kepadaku. Dan kau tahu Resah? Si pemilik tahi lalat di sudut bawah kanan bibir itu memang seorang yang cukup nakal. Memberi tanya yang sudah ada jawab di keningnya. Kemudian tanpa menunggu desah napasku tanda tanya itu dijawabnya sendiri, “tentu ada pada tiap-tiap manusia.” Dahulu aku tidak memahami ucapannya hingga aku mengekalkan dia dalam aksara ini, aku pun sepakat dengannya, tiap manusia hanya membutuhkan menunggu waktu untuk dipeluk kemurungan.

 

Begitu juga kemurungannya yang kini jadi kemurunganku. Tapi—seperti telah aku katakan, tidak aku biarkan jadi kemurunganmu, Resah. Biarlah aku bermain dan tersesat bersamanya, Resah. Dan ya! Hanya bersama dia. Sebab, seperti pernah dikatakannya, “mereka-reka itu milik manusia yang kurang yakin.”

 

/2

Kirana adalah rumah. Cinta yang aku upayakan terbangun dan tinggal di dalam bersamanya. Setiap kali dia duduk di bawah pohon jambu itu, tanpa dia sadar aku pun ikut masuk dan terjebak dalam kemurungan-kemurungannya.

 

Banyak tanda-tanda tanya yang muncul di kepalaku, ia bagai pohon-pohon yang tumbuh, setiap hari semakin subur, akar-akarnya memanjang dengan begitu lincah menancap ke dalam tanah hingga jadi sulit kucabut. Sekarang telah menghutan.

 

Ketika dia berlalu dari bawah pohon jambu—menghindarkan tubuhnya dari hujan; senja yang terkikis habis; atau memenuh teriak seorang dari balik kebencian hatinya—untuk kembali masuk rumah, aku menciptakan seorang yang lain yang serupa dengannya, untuk membagi jika-jika yang puluhan tahun lalu kami kecupkan, juga tepat di bawah pohon jambu itu. 

 

Izinkan aku mengenangkannya kepadamu, Resahku. Percayalah rasa sesak dan pedih itu hanya untuk dadaku, tidak aku relakan menjalar ke tubuhmu dan tidak mungkin lagi mempan untuk tubuhnya.

 

/3

Tiga puluh delapan tahun telah berlalu Kirana

 

Ya, Resah, hari itu senja—seperti biasa di bawah pohon jambu—aku datang menemuinya yang (selalu) sudah lebih dulu tiba. 

 

“Maaf, apa aku terlambat?” Tanyaku yang dibalasnya dengan senyuman manis—sepertinya waktu belum mampu singgah di wajahnya. 

 

“Tidak, kau terlalu cepat, Re.” Begitu dia biasa memanggil namaku.

 

Ah Resah, andai saja kau bisa ikut merasa hatiku yang hingga kini masih ingin sekali lagi memanjangkan tubuh ke hari lalu itu, untuk duduk bersamanya di atas batu dan berbicara soal kabar cintaku dan juga mendengar kabar cinta dia hari ini. Ingin sekali lagi aku nyanyikan pahangu[1] untuknya.

 

Tapi kini aku hanya bisa mendesah. Yang kulakukan hanyalah berdoa untuk dia, doa yang sama, “semoga hari ini kau tidak terlalu kepanasan, Kirana.”

 

/4

Lalu dia bergeser sedikit dan mengusap punggung batu dengan tangan kanannya yang lembut menyapu debu-debu yang singgah, “duduklah!” Pintanya. Aku pun duduk. Dia memperbaiki cara duduknya, menarik rok biru dengan bertabur motif angsa putih kecil menutup lututnya, dan dengan malu menyelip rambutnya di daun telinga.

 

Dia terlihat malu dan seperti biasa aku pun malu dan gugup, takut kalau-kalau ayahnya atau ayahku melihat, atau hujan tiba segera. Lalu, entah mengapa raut wajahnya berubah, kau tahu Resah? Hari itulah untuk pertama kali aku menyadari kemurungan sudah mengintai. Dia menatap lurus, bukan kepada ungu langit senja, tapi, sesuatu di balik kepalanya, ketakutan. 

 

“Aku ingin kau miliki seutuhnya, Re!” Ucapnya dengan bibir bergetar.

 

/5

Aku sadar Resah, sungguh sadar bahwa pernyataan itu akan tiba di hadapanku. Ya, aku tahu, aku terlalu cepat membuka buku hati kepadanya dan sudah banyak jika-jika yang kami rangkai dan lukis di langit. Lambat-lambat jika-jika itu melekat dan membintang di angkasa, selalu setiap malam bersinar di angan jadi mimpi-mimpi dan doa-doa kami. Kini, aku harus memenuhi itu. Tapi, bagaimana?

 

Hari itu Resah, aku menoleh menatapnya, jantungku cepat memompa darah lebih deras mengalir ke urat-urat nadi. Kutatap matanya yang berkaca, dengan penuh harap dia ‘kan mendengar gema pernyataan di hatiku, “sungguh aku ingin menyanggupi itu, Kirana.” 

 

Dia terus menatapku sambil kedua tangannya menangkap lenganku, “ayo Re! Jawablah!” Matanya berair. 

Aku menarik lembut tubuhnya ke dadaku, dan kudekap. Tanpa sadar aku menyeka air mata sendiri.

 

/6

Kau pernah berkata kepadaku Resah, bahwa setiap orang memiliki otoritas atas dirinya. Tapi, kini kau lihat! Dia memberiku otoritasnya. Dan apa yang aku lakukan? Ya, aku mengulang kata-katamu.

 

“Setiap orang memiliki dengan penuh dirinya sendiri, Kirana,” ucapku bersama beberapa titik air mata yang jatuh membasah di baju putih dan kulit pundaknya. 

 

Dia membalasnya, “justru itu…,” suaranya semakin sedu. Lalu tangisnya menjadi, pelukannya semakin erat kurasa, “jutru itu… Re! Tubuh dan hati ini aku berikan utuh kepadamu…, miliki aku…! Milikilah aku sepenuhnya, Re!”

 

/7

Ya, kau benar Resah! Aku sudah berusaha menyangupinya bahkan menentang tradisi kita. Tapi, sekali lagi kau benar, aku terlalu cepat. Cintaku datang tanpa aku sadari, sedang tuntutan leluhur terlambat dan tidak sanggup aku mengerti. 

 

Waktu itu Resah, aku tahu, dia dengan langkah cepat keluar dari rumah panggung uma barangu[2] berlari ke kamarnya dan menangis di sana, setelah mendengar permintaan keluarganya: sembilan puluh tiga ekor kuda dan kerbau sebagai belis baginya mampu dipenuhi. Dia di jodoh bahkan telah diikat dengan seorang anak laki-laki pamannya. 

 

Aku sudah melakukanya, dengan membawa Kirana bertemu kedua orang tuaku, tapi, Ayah begitu mengerti tradisi dan menolak permintaanku dan dia. 

 

Kau tahu Resah? Setelah berkali upaya kulakukan dan tetap saja aku tidak mampu menjadikan dia sahabat untuk menghabiskan sisa usia kami—sesuai tradisi, saat itu aku sempat tidak percaya pada ucapanmu. Sampai dia membuktikannya sendiri kepadaku.

 

/8

Aku melepas tubuhku dari pelukannya, “sudah kau lihat sendiri Kirana,” ucapku dengan hati pedih, “seperti apa pun…, kita berusaha…,” suaraku tersendat, nafasku terengah, sedang air di mata terus linang tidak aku sadari, “aku kira ada beberapa hal di bawah kolong langit ini…, yang tidak bisa kita miliki, begitu pun keinginan-keinginan kita sekarang, Kirana…. Lenganku terlalu pendek untuk cita-cita kita yang panjang.” Aku menundukan wajah, dan menutupnya dengan kedua tanganku, lalu menangis sedu.

 

Dia pun ikut menangis. Kau tahu Resah? Kedua tangannya menjalar dari bahu, leher, dan diangkatnya wajahku, “tidak Re!” Napasnya terengah, “bukan lenganmu! Tapi lengan kita…, sekarang aku milikmu, Re....”

 

/9

O…! Resah, aku menatapnya dengan hati dipenuhi sedih dan iba akan cintaku padanya dan cintanya padaku yang terlampau tulus dan berani. Dan dalam tangis, aku bertanya di hati, “lalu aku harus bagaimana, Kirana…?” 

 

Dia mengusap air matanya. Lalu dengan tegas berkata, “aku sudah mempertimbangkannya dengan matang!” 

 

Aku mengangkat muka tangisku lambat mereda, raut wajahku berubah, “apa maksudmu, Kirana?” 

 

Dia tersenyum, “berdua kita pergi dari tempat ini sejauh mungkin, Re!” Ucapnya dengan mata binar, “ ayo Re!

 

Bawalah aku bersamamu, ke mana saja, sekarang!” Aku diam menimbang rencananya. Wajahnya kembali dibasahi air mata—dia tahu bahwa aku ragu atau mungkin takut, “ayo Re! Aku hanya mencintaimu, penuhilah mimpi-mimpiku, mimpi-mimpi kita, Re!” Dia mencengkram kedua lenganku lalu mengguncang-guncang tubuhku, terus memohon. 

 

Aku menyeka air matanya, “baiklah Kirana…,” ucapku tersenyum, “aku akan membawamu keluar dari tempat ini.”

 

Aku mengeluarkan sepasang mamoli[3] dari sarungku, "ini ada dua mamoli Kirana, simpanlah satu di ranjangmu sebelum engkau keluar rumah, dan bawalah satu untuk di perjalanan nanti.” 

 

Ya! Resah, dia menerima mamoli itu dengan sorot mata menggambar rasa bahagia bercampur haru, “baik Re!”.

 

Lalu aku mengeluarkan lagi dari sarungku satu rantai anahida[4], kemudian kukalungkan ke lehernya sebagai bentuk kesungguhan rasa cintaku kepadanya.

 

/10

Dini hari. Ke dalam kain sarung, aku merapikan beberapa lembar pakaian, mengambil uang simpananku, parang, dan sekantong sirih pinang. Aku membuka jendela kamar dan melompat keluar rumah. Aku membakar obor untuk penerang jalanku, sambil mengendap-endap aku menuju kandang, lalu menarik keluar seekor kuda pacu dan menungganginya, pergi. 

 

Di tepi sungai tempat yang sudah dijanjikan Kirana kepadaku untuk bertemu, aku menunggu. Lama aku menunggu hingga sinar matahari mulai mewarna di langit. Kau tahu Resah, hari itu adalah hari dimulainya mala petaka untukku dan Kirana. 

 

“Lari Re!” teriaknya terdengar di kejauhan. 

 

Aku dengan segera turun dari kuda, tidak peduli perintahnya, aku berjalan ke arahnya, berusaha menghampirinya tanpa takut bahaya yang sedang menanti. Ya, Resah! Aku tidak tahu apa yang menggerakanku, tapi teriakan Kirana yang kupahami sedang dalam ketakutan itu, membuat tubuhku merespon tanpa aku mengerti, seakan aku dikuasai energi dari luar diriku. 

 

Di kejauhan Kirana berlari ke arahku, “cepat…! Lari Re! Lari…!” Teriaknya, sambil kedua tangannya memberikan isyarat agar aku menjauh.

 

/11

Aku terus berjalan mendapatinya, Resah, sambil menggenggam erat hulu parang yang terselip di pinggangku. Dan benar saja, ketika hendak mendekatinya sekelompok orang pemuda kampung mengepung dan menghunuskan parang menghalangi langkahku. Tapi, spontan aku pun mencabut parangku, dan bersiap. 

 

Entah kekuatan apa, tebasan seorang pemuda kampung yang tepat hendak bersarang ke tubuhku mampu kuhindari. Dengan cepat aku balas mengayunkan parang, sekali tebas dan parangku mengenai punggung pemuda kampung itu. 

 

“Ayo! Maju kalian! Siapa lagi? Ayo…!” Tantangku dengan suara menggema. Para pemuda kampung lainnya pun gentar, melihat seorang dari mereka—berhasil aku tumbangkan—terkulai bersimbah darah.

 

“Ayah! Ibu! Tolong lepaskan aku! Lari Re! Cepat larilah!” kembali teriaknya, sambil meraung-raung dalam cengkeraman kedua orang tuannya. 

 

Aku menoleh memperhatikannya dan tanpa aku sadari seorang pemuda kampung muncul di belakangku dan memukulku di pundak dan leher hingga aku pun tersungkur. Dengan sigap beberapa pemuda lainnya meringkusku.

 

/12

Siang harinya, Resah, digelarlah tikar adat untuk mengadili aku dan Kirana. Para pemuda kaya dan beberapa raja yang memang ingin memilikinya termasuk anak lelaki pamannya juga datang menghadiri pengadilan adat atas suatu kejadian yang dianggap memalukan itu. Lalu, seorang tua kampung ditunjuk menjadi hakim. 

 

Setelah melalui proses yang panjang dan berdiskusi dengan orang tuaku juga orang tua Kirana akhirnya tua kampung itu memutuskan, "saya selaku hakim memutuskan, memberi sangsi kepada Umbu Reda! Untuk  berkelana ke luar kampung selama 20 tahun. Dan Rambu Kirana! Dalam tiga hari harus memilih dengan siapa lelaki yang akan dinikahinya." Ucapnya dengan suara lantang.

 

Ya Resah, keputusan ini menyesakkan dadaku, dan membuat Kirana tercengang. Dia meronta-ronta berusaha melepaskan diri dari ikatan yang membelenggu kedua tangannya, "tidak!” jeritnya, “aku hanya ingin menikah dengan Umbu Reda!" 

 

Aku hanya tertunduk lesu tanpa berkata apa-apa. Bagiku mungkin inilah akhirnya, sebuah garis takdir dari Tuhan di telapak tanganku dan tangan Kirana. 

 

"Tidak! Kau Rambu Kirana…, harus menikah dengan anak pamanmu atau salah satu di antara mereka itu!" Tegas sang hakim sambil menunjuk para lelaki yang sedang tersenyum. 

 

"Aku tidak mau! Hatiku hanya untuk Re!" Balas Kirana lagi sambil memelototkan matanya ke arah tua kampung itu. 

 

"Kau hanya seorang perempuan Kirana! Apapun keputusannya kau harus melakukannya." Tua kampung membalasnya,  sinis. 

 

"Tidak!" Teriak Kirana keras, "demi tanah yang jadi pijakku, demi angin yang membasuh tubuhku, demi langit yang jadi atapku, dan demi petir sang penopang leluhurku, jikalau aku Rambu Kirana tidak menikah dengan Umbu Reda, maka aku bersumpah! Akan mati bersama petir yang menyambar!" 

 

Demikian kutuknya kepada dirinya sendiri Resah, yang diucapkannya dengan suara beringas sambil memukulkan kepalanya ke tanah seperti orang kesurupan, hingga, "duar…! duar…! duar!" Langit menggemuruh dan berdentam keras. 

 

/13

Seluruh penghuni kampung dibuat gentar dengan suara gemuruh di langit yang sangat keras itu. Tapi, tidak dengan sang hakim, dia dengan tegas membalas, "tidak! Kau Rambu Kirana harus mengikuti keputusan tikar adat ini."

Kau tahu Resah? Dia pun menjatuhkan diri sambil mengguling-gulingkan tubuh di tanah. Seperti kesurupan. Beberapa pemuda kampung segera mendekat ingin memapahnya.

 

Aku pun berusaha bangkit, “hei!” teriaku kepada pemuda-pemuda itu, “jangan salah satu di antara kalian berani menyentuh dia!” Tapi apa dayaku, Resah, aku hanya seorang dan tanganku sedang terikat, maka dengan bertubi-tubi pukulan akupun dilumpuhkan mereka. 

 

Pemuda-pemuda kampung itu pun menyeretku keluar dari tikar adat. “Tidak! Re!” Kirana dari rangkulan orang tuanya menjerit memanggil-manggil. Dia hanya mampu menghantarku dengan tatapan yang dipenuhi kesedihan, air di matanya meluber membasahi wajahnya yang telah berlepotan tanah.

 

/14

Di malam harinya aku digiring ke luar kampung dengan kuda pacu dan dikawal lima orang pemuda kampung. Mereka ditugaskan tua kampung untuk menjagaku agar tidak pernah kembali ke kampung selama masa hukumanku.

 

Lalu Resah, tiga hari setelahnya dia diarak ke tengah kampung yang disaksikan oleh penduduk kampung, tua kampung, kedua orang tua dan keluarga kami, dan juga tidak ketinggalan para lelaki dan raja yang ingin meminangnya.

 

Setelah menunggu tidak berapa lama sang hakim datang dengan jubah adat lengkap lalu bertitah, "dengan segenap kekuasaan yang telah diberikan maka saya selaku hakim, sesuai putusan di tikar adat tempo hari, mengharuskan Rambu Kirana untuk memilih suaminya pada hari ini, salah satu dari lelaki-lelaki yang sudah datang dan ingin meminangnya!"

 

Para lelaki yang hampir tiga puluan orang jumlahnya itu langsung menyungingkan senyuman nakal kepadanya. Namun tidak dengannya, Resah, dalam beberapa hari dia hanya diliputi duka lara, wajahnya pucat pasi, rambutnya acak-acakan, kulitnya berdebu tanah, dan tatapan matanya kosong. 

 

O…! Resah, kau tahu? Tapi, dari bibir masih saja terdengar sayup-sayup dia mengucap namaku berulang-ulang. Sedangkan nun jauh di kelana aku terus saja meratapinya. Dadaku seperti ada yang membuat jaring di sana, sesak. Hatiku seperti telah hancur, berkeping-keping. Bahkan aku tidak lagi sadar ‘kan linangan air mata yang membasah di pipiku.

 

/15

Tapi, setelah menunggu lama Kirana belum juga mengambil putusan. Sikap acuhnya mengundang rasa tidak sabar di hati hakim itu, yang kemudian memerintahkannya dengan suara lantang, "wahai kau Rambu Kirana! Segera kau pilih siapa di antara mereka yang akan kau jadikan suami!?"

 

Dia masih juga tidak bergeming sedikit pun, Resah, lalu tua kampung itu memaksa lagi, berulang-ulang. Hingga dia kemudian berkata, "Rambu Kirana! Kau harus memilih salah satu dari mereka, kalau tidak saya akan memerintahkan beberapa orang untuk menyusul dan membunuh Umbu Reda!"

 

Mendengar ucapan tua kampung mengancam nyawaku, maka api kemarahan dalam dirinya membara, dengan setengah berteriak dia menjawab, "baiklah! Kalian yang  memaksaku!" Inilah Resah, bukti besar cintanya kepadaku dan bukti ucapanmu bahwa tiap manusia memiliki otoritas mutlak atas dirinya! Dengan perlahan dia bersujud sambil wajahnya ditengadahkan ke langit, lalu bibirnya berkomat-kamit memanjat doa pada sesembahannya, "untukMu wahai Yang Maha Besar, yang berlebar telinga dan hati seluas padang. Dengarlah doa Rambu Kirana ciptaanMu! Biarlah aku lebur dari bumi ini. Sebab aku belajar dariMu tentang bagaimana mencintai dengan penuh kesucian dan ketulusan. Dan Engkau tahu semua cinta yang aku miliki hanya untuk Umbu Reda seorang. Semua ketulusan hanya untuknya seorang. Maka dengan ini aku Rambu Kirana  meminta dengan kesucian dan kelapangan hati meminta kepadaMu, wahai penguasa jagat raya dan pelindung para leluhurku. Aku meminta kepadaMu! Dengan kuasaMu untuk meleburkan tubuhku dari bumi ini!"

 

/16

Setelah mengucapkan doa yang dirapal dia pun membenturkan kepala tiga kali ke tanah. Serentak angin berhembus kencang, gemuruh besar dari langit bersahut-sahutan, semua penduduk kampung mulai ketakutan, kedua orang tuanya mencoba mendekat, namun seperti ada kekuatan lain yang menahan. Dan tiba-tiba Kirana pun berteriak nyaring, "untukMu sang penguasa alam semesta dan penguasa jagat raya, aku Rambu Kirana ingin lebur dari bumi ini..., renggutlah! Argh!"

 

Suasana dipenuhi aura ketakutan dan aura mistis. Tiba-tiba suara seperti petikan djungga[5] mengiring teriakannya, dan sekejap petir yang maha besar menyambarnya. Tubuh Kirana hancur berkeping-keping, potongan-potongan tubuhnya pecah ke mana-mana. 

 

Tapi kau tahu Resah? Tidak lama setelahnya tubuh Kirana yang sudah tercerai itu mengeluarkan aroma yang sangat harum, serentak penduduk kampung dan lelaki-lelaki yang ingin melamarnya itu saling berebut potongan-potongan tubuhnya lalu pergi meninggalkan sang hakim yang terdiam dan kedua orang tua Kirana yang sedang menangisi nasib anak mereka. 

 

Aku menoleh menatap langit yang jauh. Bunyi petir yang maha besar itu sampai ke telingaku, jantungku seperti disayat sebilah pisau sekali. Aku tersungkur ke tanah dan menahan nyeri di dadaku. Sambil menangis tersedu, aku memanggil namanya, berulang-ulang. Di sekelilingku aroma tubuh Kirana merekah.

 

/Epilog

Hingga hari ini aroma tubuhmu masih mewangi di tubuhku. Tiga puluh delapan tahun berlalu, dan aku sudah kembali, Kirana. Kau tahu Resah? Aku sungguh mencintai mendung dan datangnya hujan. Lihatlah Resah! Dia sedang menangis. Tanpa angin, air hujannya hanya rintik. Bening bukan? 

 

Aku harus ke luar rumah dan duduk di bawah pohon jambu itu, untuk sekadar menadah harunya—juga membagi kesedihanku bersamanya. Tidak apa, air mataku akan disamarkan air matanya, karena dia tahu kami memenangkan kekalahan dalam suatu tanding yang tidak adil di tikar adat, bahwa kami tidak pernah ingin menggadai cinta, bahkan atas nama tradisi.

 

***

______________________

[1] Pantun atau balada yang dinyanyikan. Pahangu biasanya digunakan sebagai media untuk menyatakan rasa cinta kepada seseorang.

[2] Bentuk rumah adat yaitu rumah panggung dan bermenara. Biasa disebut juga rumah besar. Uma Barangu biasa digunakan untuk melangsungkan musyawarah dan perundingan-perundingan adat.

[3] Perhiasan adat Sumba berbentuk anting-anting telinga yang biasanya terbuat dari emas atau perak dengan berbagai ornamen pelengkap lainnya. Bentuk dasar mamoli menyerupai bentuk rahim atau kelamin perempuan, sebagai simbol keperempuanan dan kesuburan yang tentunya dimaksudkan untuk menghormati kedudukan perempuan.

[4] Perhiasan adat Sumba umumnya sejenis kalung berupa manik yang terbuat dari batu alam berharga dari masa silam sebesar biji jagung yang dirangkai secara sederhana. 

[5] Adalah sebutan untuk macam-macam instrumen musik petik khas Sumba yang menyerupai kecapi atau ukulele, dengan menggunakan dua senar pada umumnya.

Tidak ada komentar: